Fasilitas, sarana dan prasarana
Asrama Santri
Sejak pertama kali al-Ishlah dirintis oleh KH. Thoha Mu’id, sarana dan
prasarana untuk santripun masih seadanya, jauh dari ideal. Pada tahun pertama
hanya terdapat satu kamar yang masih bersifat darurat yang dikenal dengan
istilah nyaempokan (sesuatu yang dindingnya sebagian cukup pada bangunan
lain) tepatnya berada di sebelah barat Ndalemnya Bapak H.Mu’id, itu harus ditempati
oleh dua belas.
Dengan kondisi seperti itu, maka kegiatan belajar-mengajar ditempatkan
dilanggar atau surau kecil dengan penerangan lampu 5 watt, sehingga para santri
menerima pelajaran dari Kyai membawa lampu teplok yang dipasang pada dinding
langgar atau lampu ublik yang diletakkan di atas dampar (meja kecil) atau
dipegang dengan tangan kirinya bagi mereka yang tidak mempergunakan meja,
dimana kitabnya hanya disandarkan diatas lututnya yang berfungsi sebagai
gantinya meja tulis, sedang tangan kananya digunakan i untuk maknani /Ngapsai
(menulis) pada kitab yang dikaji. Bagi mereka yang tidak membawa lampu sendiri maka mereka
mengelompok, bergabung dengan temannya sehingga lampu satu dikerumuni oleh tiga
atau empat orang.
Itulah Al-Ishlah dimasa silam, yang selalu dikenang oleh para santri
generasi pertama. Rupa-rupanya keadaan itu sekarang ini sudah menjadi sejarah
masa silam, karena al-Ishlah yang ada kini
ditaburi cahaya lampu neon berukuran 40 watt, yang menjadikan sekitarnya
terang benderang. Karena demi kepentingan umat, dengan adanya proyek pemerintah dengan membangun jembatan yang
menghubungkan Kota Barat dan Kota Timur, serta pelebaran jalan Bandar Ngalim, maka langgar kecil yang sangat berjasa itu
beserta menara yang sangat antik dan menjulang tinggi tempat mengalunkan
panggilan Illahi setiap maghrib dan subuh harus rela untuk digusur.
Akan tetapi seiring dan senada dengan berkembangnya zaman, yang didukung
oleh jumlah santri yang terus meningkat, maka pihak pengelola pun mau-tidak mau
harus berbenah diri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan cara
menambah fasilitas, sarana dan prasarana bagi santri. Sejak tahun 1954, dari
tahun ke tahun di al-Ishlah tercatat beberapa kali melakukan pembangunan asrama
santri. Hingga menjadi al-Ishlah seperti yang dapat kita saksikan sekarang.
Saat ini di dalam area pondok pesantren
al-Ishlah terdapat lima komplek yang terdiri beberapa kamar, diantaranya
adalah: al-Fattah: 7 kamar, al-Munawwaroh: 8 kamar, al-Mubarokah: 5 kamar,
al-Hurriyah: 5 kamar, dan as-Sa’adah: 12 kamar.
v
Mushola al-Ishlah
Sebagai upaya untuk menigkatkan kegiatan belajar mengajar para santri, maka
pada tahun 1966 area pondok pesantren
Al-Ishlah diperluas dengan dibelinya rumah besar kepunyaan Bu Sinder
beserta tanahnya seluas 1560 m² atau 111½ ru yang pada tahun berikutnya rumah
tersebut dialih fungsikan atau dirombak menjadi “Masjid al-Ishlah”, Sebagai
pusat kegiatan santri. Bangunan ini pun mengalami beberapa kali renovasi,
hingga berdiri megah Masjid Al-Islah sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.
v
Menara Arafah
v
SANIMAS (Sanitasi Masyarakat Pesantren) “NAMI“ Pondok Pesantren Al-Ishlah
Ini merupakan salah satu terobosan baru yang ada ditempuh oleh pondok
pesantren al-Ishlah dalam rangka
menyediakan fasilitas MCK bagi
santri yang memenuhi standart departemen kesehatan. Selain sebagai
tempat pembuangan kotoran (tinja/feses)
dari para santri, SANIMAS ini mempunyai fungsi ekonomis yakni dengan
memanfaatkan mikro organisme yang dapat menguraikan tinja/feses untuk diubah menjadi bluegas, sehingga
bisa dimanfaatkan para santri untuk memasak.
Ini menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan sebagai ganti dari gas LPG.
Sanitasi Masyarakat ”NAMI” Pondok Pesantren al-Ishlah ini dibangun mulai pada
tanggal _____2010 dan selesai tanggal ___2010
v
Perpustakaan
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Islam menaruh perhatian besar
terhadap ilmu pengetahuan. Hubungan timbal balik antara ilmu agama dan ilmu
umum bagaikan sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain,
keberadaannya harus seimbang yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Hidupnya
ajaran Islam harus dipelihara dengan cara menghidupkan dan mengembangan semangat mencari
ilmu serta memeliharanya. Sedangkan kunci pertama dari pada ilmu pengetahuan
adalah berangkat dari kemauan untuk menulis dan membaca, karana pada dasarnya
apapun yang di baca dan di dengar oleh
seseorang akan berdampak pada perilakunya. Apabila hal ini terjadi pada diri
seorang santri, dengan adanya kemauan untuk mengkaji buku-buku atau pun kitab
yang telah di sediakan oleh pengelola perpustakaan, maka lambat laun pola
pikirnya pun akan berubah dan ketajaman analisanya pun akan semakin terasah.
Oleh karena itu, minat baca para santri di lingkungan pesantren harus
mendapatkan prioritas yang utama.
Dalam
hal ini, upaya yang ditempuh oleh pondok pesantren al-Ishlah adalah dengan
mendirikan perpustakaan.
·
Perpustakaan ”Gerbang”
Ini merupakan bangunan perpustakaan kedua yang ada di dalam lingkungan
pondok pesantren al-Ishlah, yang didirikan pada tahun 1969, yakni 15 tahun
setelah berdirinya pondok pesantren al-Ishlah. Pada perkembangannya,
perpustakaan ini mempunyai beberapa
koleksi karya fiksi maupun karya ilmiah
dari hasil penelitian, yang diklasifikasikan dalam beberapa jenis,
antara lain: buku dan kitab tentang ajaran Islam(fiqh, hadits, tafsir, dll.),
ketrampilan, keorganisasian, pendidikan, kebudayaan, kesenian, bahasa, skripsi,
dll. Dari tahun ke tahun buku koleksi perpustakaan semakin bertambah, buku-buku
itu merupakan hibah dari santri, atau kenang-kenangan dari mahasiswa yang telah selesai dalam penulisan skripsi,
dan juga dari sumbangan pemerintah daerah.
Akan tetapi dikarenakan kurangnya perhatian dalam hal manajemen, selain
buku itu bertambah, rupa-rupanya satu-persatu buku itu ada yang hilang entah
kemana. Kemudian pada tahun 2001, ada
rencana untuk merintis kembali perpustakaan Pondok Pesantren Al-Ishlah.
Perpustakaan itu diberi nama ”GERBANG”, dan lagi karena sistem manajemen yang
kurang tertata dengan baik, menyebabkan perpustakaan ini tidak bisa
terkondisikan lagi, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah kenangan yang ikut
mewarnai sejarah perkembangan pondok pesantren al-Ishlah.
·
Al-Maktabah ála ahlussunah wal jama’ah Pondok Pesantren Al-Ishlah
Setelah perpustakaan Gerbang tidak terorganisir selama
bertahun-tahun lamanya, pada tahun 2010
ini pondok pesantren al-Ishlah mulai merintis kembali bangunan perpustakaan,
yang rencananya akan diresmikan bersamaan dengan Peringatan Setengah Abad
Pondok Pesantren al-Ishlah. Perpustakaan itu diberi nama ”Al-Maktabah ála
ahlussunah wal jama’ah”, dengan
adanya fasilitas perpustakaan nanti diharapkan semangat belajar santri dalam
mengkaji khazanah keilmuan akan semakin meningkat.