Jumat, 11 Mei 2012

Kegiatan Ektra Kurikuler pondok Pesantren Al-Ishlah


Kegiatan Ektra Kurikuler pondok Pesantren Al-Ishlah
a.    Jam’iyyah IMALAH
Jam’iyyah adalah istilah lain (sinonim)untuk organisasi, organisasi sendiri secara etimologi dapat berarti yang berarti pekumpulan, persekutuan atau kelompok. Sedangkan organisasi secara terminologi berarti adalah suatu kelompok orang atau manusia yang bekerja kearah tujuan yang  sama dibawah suatu kepemimpinan.
Penggunaan IMALAH (Ikatan Muta’alimin Al-Ishlah) sebagai nama  organisasi santri al-Ishlah pertama kali diprakarsai oleh Bapak Sayuthi Farid.  Selanjutnya, keberadaan jami’iyyah IMALAH itu menjadi tempat berkumpulnya santri-santri al-Ishlah1968 bekerjasama kearah  tujuan yang telah diagendakan. Embrio dari pada kegiatan jam’iyyah  IMALAH sebenarnya sudah ada sejak lama, namum nama  IMALAH itu secara resmi digunakan dan diakui sebagai satu-satunya organisasi yang berdiri dibawah naungan Pondok Pesantren Al-Ishlah mulai tahun 1968. Organisasi bertujuan memberi wadah bagi santri untuk menyalurkan bakat dan mengembangkan kreatifitas sebagai bekal nanti terjun dimasyarakat. Program yang diagendakan pun beragam, mulai dari kegiatan keagamaan seperti:  pembacaan sholawat dziba’ dan Berzanji, Sholawat al-Banjari,  latihan tahlil, pidato, khutbah Jum’at, akad nikah, praktik Ibadah dan Muamalah, seni baca al-Qur’an. Seiring dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kegiatan IMALAH pun mulai dimodifikasi sedemikian rupa, dengan mengadakan pelatihan Jurnalistik, leadership, pelatihan ketrampilan, pidato yang mencakup 4 bahasa (Jawa, Indonesia, Arab dan Inggris), untuk melatih kesadaran akan pentingnya kebersihan, maka diadakan program roan massal (kerja bakti) secara berkala, sedangkan yang berkenaan dengan kesehatan jasmani dibuatkan agenda kegiatan olah raga setiap hari jum”at dan minggu. dan beragam kegiatan lain yang berorientasi pada pembelajaran.

Metode Pembelajaran


Metode Pembelajaran
Jejak rekam metode pembelajaran di Pondok pesantren al-Ishlah tercatat mengalami beberapa perubahan, hal ini dilakukan karena mengikuti tuntutan perkembangan zaman di bidang pendidikan dan pengajaran.  Pada mulanya Al-Ishlah menerapkan sitem pengajian wetonan dan sistem sorogan. Metode weton sendiri adalah ceramah yang diberikan oleh Kyai kepada santri secara bersama-sama, para santri mengikuti pelajaran dengan duduk disekeliling kyai, dengan  menyimak kitab yang sedang dikaji oleh Kyai dan masing dari santri membuat catatan padanya, dikalangan pesantren lebih dikenal dengan istilah  ngapsahi/ maknani kitab (memberikan catatan kecil yang berkaitan dengan makna pada kitab yang sedang dikaji). Kata Weton berasal dari bahasa  Jawa yang berarti waktu, karena pada dasarnya kegiatan pengajian seperti ini  dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti setelah sholat maktubah. Akan tetapi  setiap daerah mempunyai istilah yang berbeda-beda  dalam menyebut  metode ini, di Jawa Barat menggunakan istilah Bandongan, sedangkan di Sumatra terkenal dengan Halaqoh. Keduanya mempunyai maksud yang sama yaitu metode pengajian dimana para santri duduk melingkar disekeliling Kyai untuk mengikuti pengajian yang disampaikan oleh Kyai.
Sedangkan metode Sorogan adalah metode  belajar secara perorangan dimana para santri menghadap Kyai seorang satu per satu secara bergantian dengan membawa kitab yang akan dipelajari. Kyai kemudian membacakan  kitab, menterjemahkan dan menjelaskan maksudnya, sementara santri mendengarkan dan menyimak penjelasan dari Kyai. Kemudian ia mengulangi dan mempelajari apa yang telah diberikan sampai merasa telah dapat menguasai pelajaran tersebut, lalu pada kesempatan yang lain ia datang lagi menghadap Kyai untuk mendengarkan pelajaran lanjutannya secara singkat.
Seiring dengan perkembangan metode pembelajaran di dunia pendidikan, maka al-Ishlah pun berusaha untuk menyesuaikan diri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembangkan metode pembelajarannya, seperti menggunakan metode Syawir (musyawarah/diskusi), praktikum, pembuatan makalah dan presentasi, dan lain-lain. Di samping menerapkan metode sebagaimana telah diuraikan , pondok pesantren al-Ishlah juga menerapkan sistem pengajian kilatan yang dilaksanakan setiap  bulan Romadlon
Semua itu dilakukan dengan harapan akan mengasilkan out put yang berkualitas, sehingga siap untuk diterjunkan di tengah-tengah masyarakat dengan segala kopetensi yang ia miliki.

Kurikulum dan Metode Pembelajaran di Pondok Pesantren al-Ishlah


Kurikulum Pendidikan
Mayoritas pondok pesantren di Indonesia, terutama pesantren salaf kurikulum pendidikannya lebih didominasi oleh pengetahuan-pengetahuan yang berorientasi pada  penguasaan keilmuan Islam, seperti:  Bahasa Arab ( ilmu Nahwu, Shorof dan ilmu ilmu alat lainnya), Ilmu Fiqh, Ushul Fiqh, Ulumul Qur’an, kajian kitab Tafsir,  Hadits, Ilmu Hadits, disamping itu juga mengkaji  Ilmu Kalam (Tauhid), Mantiq (Logika), Tarikh Nabi, Tasawuf dan Akhlaq.
Berdasarkan kurikulum tersebut, maka al-Ishlah menentukan  kitab-kitab yang akan dikaji oleh para santri, kitab-kitab itu antara lain:
BIDANG KAJIAN
NAMA KITAB
Nahwu / Shorof
al-ajrumiyyah, al-Imrithi, alfiyyah Ibnu Malik, Ibnu ’Aqil,  Jawahirul Maknun, Amtsilati Tasrifiyya,  Qowa’idu Shorfiyyah, al-Maqsud, dll.
Fiqh
Mabadi’ al-Awwaliyah, al-Sulam Taufiq, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, al-Iqna’, dll.
Ushul Fiqh
Mabadiiul Awwaliyah, as-Sulam
Hadits
Arba’in Nawawi, Bulughul Marom, , Riyadhus Sholihin, Adzkar An-Nawawi, Abi Jamroh, Jawahirul Bukhori, Tanqihul Qoul, dll.
Tauhid
Dasuki, Jauharut Tauhid, Kifayatul Awam, Hidayatus Sibyan, dll.
Tasawuf
Kifayatul Atkiya’, Al-Hikam, Nashoihul ‘Ibad, Minhajul “abidiin, dll.
Tafsir
Tafsir Jalalain, Tafsir Marokh Lubaid (Tafsir Munir)
Akhlaq
’ala-la, at-Ta’lim Muta’alim, Taisirul Kholaq, Washoyatul Aba’ lil Abna’, dll
Tajwid
Hidayatus Sibyan, Tuhfatul Athfal, dll

Hanya saya yang menjadi bacaan rutin (wiridan) KH. Thoha Mu’id adalah: setiap Ba’da Shubuh beliau membaca kitab Aurod li Inarotil Aqbad dan al-Qur’an bersama para santri. Tafsir Jalalain, Tafsir Munir (Tafsir), al-Fiyyah Ibnu Malik dan Ibnu ’Aqil (Nahwu), Fath Qorib, Fath Mu’in (Fiqh), al-Hikam (Tasawuf).
.  
Itu adalah sebagian dari kitab yang masuk dalam daftar kurikulum pondok pesantren al-Ishlah, sebenarnya masih banyak lagi kitab yang dikaji akan tetapi tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

Fasilitas, Sarana Dan Prasarana


Fasilitas, sarana dan prasarana
Asrama Santri
Sejak pertama kali al-Ishlah dirintis oleh KH. Thoha Mu’id, sarana dan prasarana untuk santripun masih seadanya, jauh dari ideal. Pada tahun pertama hanya terdapat satu kamar yang masih bersifat darurat yang dikenal dengan istilah nyaempokan (sesuatu yang dindingnya sebagian cukup pada bangunan lain) tepatnya berada di sebelah barat Ndalemnya Bapak H.Mu’id, itu harus  ditempati  oleh dua belas.
Dengan kondisi seperti itu, maka kegiatan belajar-mengajar ditempatkan dilanggar atau surau kecil dengan penerangan lampu 5 watt, sehingga para santri menerima pelajaran dari Kyai membawa lampu teplok yang dipasang pada dinding langgar atau lampu ublik yang diletakkan di atas dampar (meja kecil) atau dipegang dengan tangan kirinya bagi mereka yang tidak mempergunakan meja, dimana kitabnya hanya disandarkan diatas lututnya yang berfungsi sebagai gantinya meja tulis, sedang tangan kananya digunakan i untuk maknani /Ngapsai (menulis) pada kitab yang dikaji.  Bagi mereka yang tidak membawa lampu sendiri maka mereka mengelompok, bergabung dengan temannya sehingga lampu satu dikerumuni oleh tiga atau empat orang.
Itulah Al-Ishlah dimasa silam, yang selalu dikenang oleh para santri generasi pertama. Rupa-rupanya keadaan itu sekarang ini sudah menjadi sejarah masa silam, karena al-Ishlah yang ada kini  ditaburi cahaya lampu neon berukuran 40 watt, yang menjadikan sekitarnya terang benderang. Karena demi kepentingan umat, dengan adanya proyek  pemerintah dengan membangun jembatan yang menghubungkan Kota Barat dan Kota Timur, serta pelebaran  jalan Bandar Ngalim, maka  langgar kecil yang sangat berjasa itu beserta menara yang sangat antik dan menjulang tinggi tempat mengalunkan panggilan Illahi setiap maghrib dan subuh harus rela untuk digusur.
Akan tetapi seiring dan senada dengan berkembangnya zaman, yang didukung oleh jumlah santri yang terus meningkat, maka pihak pengelola pun mau-tidak mau harus berbenah diri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan cara menambah fasilitas, sarana dan prasarana bagi santri. Sejak tahun 1954, dari tahun ke tahun di al-Ishlah tercatat beberapa kali melakukan pembangunan asrama santri. Hingga menjadi al-Ishlah seperti yang dapat kita saksikan sekarang. Saat ini di dalam area  pondok pesantren al-Ishlah terdapat lima komplek yang terdiri beberapa kamar, diantaranya adalah: al-Fattah: 7 kamar, al-Munawwaroh: 8 kamar, al-Mubarokah: 5 kamar, al-Hurriyah: 5 kamar, dan as-Sa’adah: 12 kamar.
v  Mushola al-Ishlah
Sebagai upaya untuk menigkatkan kegiatan belajar mengajar para santri, maka pada tahun 1966 area pondok pesantren  Al-Ishlah diperluas dengan dibelinya rumah besar kepunyaan Bu Sinder beserta tanahnya seluas 1560 m² atau 111½ ru yang pada tahun berikutnya rumah tersebut dialih fungsikan atau dirombak menjadi “Masjid al-Ishlah”, Sebagai pusat kegiatan santri. Bangunan ini pun mengalami beberapa kali renovasi, hingga berdiri megah Masjid Al-Islah sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.
v  Menara Arafah

v  SANIMAS (Sanitasi Masyarakat Pesantren) “NAMI“ Pondok Pesantren  Al-Ishlah
Ini merupakan salah satu terobosan baru yang ada ditempuh oleh pondok pesantren al-Ishlah dalam rangka  menyediakan fasilitas MCK bagi  santri yang memenuhi standart departemen kesehatan. Selain sebagai tempat  pembuangan kotoran (tinja/feses) dari para santri, SANIMAS ini mempunyai fungsi ekonomis yakni dengan memanfaatkan mikro organisme yang dapat menguraikan  tinja/feses untuk diubah menjadi bluegas, sehingga bisa dimanfaatkan para santri untuk  memasak. Ini menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan sebagai ganti dari gas LPG. Sanitasi Masyarakat ”NAMI” Pondok Pesantren al-Ishlah ini dibangun mulai pada tanggal _____2010 dan selesai tanggal ___2010
v  Perpustakaan
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Islam menaruh perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Hubungan timbal balik antara ilmu agama dan ilmu umum bagaikan sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, keberadaannya harus seimbang yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Hidupnya ajaran Islam harus dipelihara dengan cara  menghidupkan dan mengembangan semangat mencari ilmu serta memeliharanya. Sedangkan kunci pertama dari pada ilmu pengetahuan adalah berangkat dari kemauan untuk menulis dan membaca, karana pada dasarnya apapun yang di baca dan di dengar  oleh seseorang akan berdampak pada perilakunya. Apabila hal ini terjadi pada diri seorang santri, dengan adanya kemauan untuk mengkaji buku-buku atau pun kitab yang telah di sediakan oleh pengelola perpustakaan, maka lambat laun pola pikirnya pun akan  berubah dan  ketajaman analisanya pun akan semakin terasah. Oleh karena itu, minat baca para santri di lingkungan pesantren harus mendapatkan prioritas yang utama.
Dalam hal ini, upaya yang ditempuh oleh pondok pesantren al-Ishlah adalah dengan mendirikan perpustakaan.
·      Perpustakaan ”Gerbang
Ini merupakan bangunan perpustakaan kedua yang ada di dalam lingkungan pondok pesantren al-Ishlah, yang didirikan pada tahun 1969, yakni 15 tahun setelah berdirinya pondok pesantren al-Ishlah. Pada perkembangannya, perpustakaan ini  mempunyai beberapa koleksi karya fiksi maupun karya ilmiah  dari hasil penelitian, yang diklasifikasikan dalam beberapa jenis, antara lain: buku dan kitab tentang ajaran Islam(fiqh, hadits, tafsir, dll.), ketrampilan, keorganisasian, pendidikan, kebudayaan, kesenian, bahasa, skripsi, dll. Dari tahun ke tahun buku koleksi perpustakaan semakin bertambah, buku-buku itu merupakan hibah dari santri, atau kenang-kenangan dari mahasiswa  yang telah selesai dalam penulisan skripsi, dan juga dari sumbangan pemerintah daerah.  Akan tetapi dikarenakan kurangnya perhatian dalam hal manajemen, selain buku itu bertambah, rupa-rupanya satu-persatu buku itu ada yang hilang entah kemana. Kemudian pada tahun  2001, ada rencana untuk merintis kembali perpustakaan Pondok Pesantren Al-Ishlah. Perpustakaan itu diberi nama ”GERBANG”, dan lagi karena sistem manajemen yang kurang tertata dengan baik, menyebabkan perpustakaan ini tidak bisa terkondisikan lagi, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah kenangan yang ikut mewarnai sejarah perkembangan pondok pesantren al-Ishlah.

·      Al-Maktabah ála ahlussunah wal jama’ah  Pondok Pesantren  Al-Ishlah
Setelah perpustakaan Gerbang tidak terorganisir selama bertahun-tahun lamanya,  pada tahun 2010 ini pondok pesantren al-Ishlah mulai merintis kembali bangunan perpustakaan, yang rencananya akan diresmikan bersamaan dengan Peringatan Setengah Abad Pondok Pesantren al-Ishlah. Perpustakaan itu diberi nama ”Al-Maktabah ála ahlussunah wal jama’ah”,  dengan adanya fasilitas perpustakaan nanti diharapkan semangat belajar santri dalam mengkaji khazanah keilmuan akan semakin meningkat.
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template